Lebih dari Sekadar Politik Aksi Sosial Gerwani di Akar Rumput
Salah satu fokus utama organisasi ini adalah memberantas buta huruf yang saat itu masih mendominasi perempuan di perdesaan. Gerwani secara aktif menyelenggarakan Aksi Sosial berupa kursus baca tulis dan pendidikan dasar bagi para ibu rumah tangga. Langkah ini bertujuan agar perempuan memiliki kemandirian intelektual untuk mengelola keluarga dan lingkungan sekitar.
Selain pendidikan, mereka juga sangat peduli terhadap kesehatan ibu dan anak melalui pendirian berbagai balai kesehatan sederhana. Keberadaan Aksi Sosial ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan milik pemerintah kolonial maupun pusat. Mereka memberikan edukasi tentang gizi dan kebersihan lingkungan demi menekan angka kematian bayi.
Di bidang ekonomi, Gerwani memfasilitasi pembentukan koperasi simpan pinjam untuk membantu perempuan terlepas dari jeratan lintah darat. Melalui Aksi Sosial yang terorganisir, kaum perempuan diajarkan cara mengelola keuangan mikro dan keterampilan menjahit. Program pemberdayaan ini terbukti mampu meningkatkan taraf hidup keluarga petani dan buruh di berbagai wilayah pelosok Nusantara.
Gerwani juga dikenal vokal dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dalam pernikahan, seperti menolak praktik poligami yang sewenang-wenang. Mereka menganggap bahwa Aksi Sosial harus mencakup perlindungan hukum terhadap kekerasan domestik yang sering dialami oleh para istri. Upaya diplomasi dan advokasi ini dilakukan dengan berani demi menjunjung tinggi martabat perempuan Indonesia.
Penyebaran pengaruh organisasi ini pun dilakukan melalui kegiatan seni dan budaya yang merakyat, seperti tari-tarian dan drama tradisional. Kegiatan tersebut menjadi sarana komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan perjuangan hak perempuan kepada massa luas. Gerwani berhasil menyatukan aspirasi politik dengan kebutuhan praktis harian perempuan dalam satu wadah gerakan yang solid.
Namun, segala pencapaian sosial ini seolah tertutup oleh stigma politik hitam yang muncul setelah terjadinya peristiwa besar tahun 1965. Narasi sejarah yang dibentuk kemudian membuat kontribusi nyata mereka dalam membangun masyarakat di akar rumput menjadi terlupakan. Penghancuran organisasi ini juga berdampak pada berhentinya banyak program pemberdayaan perempuan yang sudah berjalan baik.
